Jumat, 23 Januari 2009

Sejarah Konflik Israel dan Palestina

SEJARAH KONFLIK ISRAEL DAN PALESTINA

Pasca serangan zionis Israel terhadap Palestina pada tanggal 27 Desember 2008 silam sampai akhir pertengahan Januari 2009 telah menyebabkan ratusan warga sipil Palestina tewas menggenaskan, sedangkan ratusan lainnya luka-luka, yang sebagian besar korban tersebut adalah anak – anak dan wanita. Kecaman atas serangan tersebut berdatangan dari berbagai negara, tetapi ternyata Amerika Serikat terlebih dulu bertindak dengan mengeluarkan veto terhadap resolusi PBB atas serangan Israel ke Jalur Gaza tersebut.

Konflik Palestina – Israel menurut sejarah sudah 31 tahun ketika pada tahun 1967 Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria dan berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Sampai sekarang perdamaian sepertinya jauh dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan tentang masa depan Palestina dan hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di Palestina sendiri.
Apa sebenarnya yang menjadi latar belakang sejarah penyebab terjadinya konflik antara Palestina – Israel ini?

Timur Tengah merupakan kawasan dimana tiga agama Samawi diturunkan dan menjadikannya sebagai kawasan suci bagi umat Yahudi, Nasrani, dan Islam. Hal ini yang melatarbelakangi terjadinya Perang Salib dalam kurun waktu ratusan tahun.Tidak hanya perang salib, dalam era modern sekalipun konflik dikawasan Timur Tengah mashi sering bergejolak, seperti perang Iran-Irak, Irak-Kuwait, invasi Amerika Serikat ke Irak dan Afganistan, dan konflik Israel-Palestina yang sudah lama berlangsung hingga sampai pada detik ini. Entah sudah berapa ratus, ribu bahkan jutaan manusia mati begitu saja, baik dari pihak Israel maupun Palestina. Meskipun sudah memakan banyak korban baik harta maupun jiwa sekalipun konflik Palestina-Israel tak kunjung usai. Bahkan lembaga Internasional sekalipun (dibaca: PBB) tak dapat menghentikan tragedi kemanusiaan di kawasan Timur Tengah khususnya dalam konflik Israel-Palestina. Kedua entitas politik ini telah “bertarung” di kawasan Timur Tengah semenjak berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

Meskipun memiliki catatan sejarah dalam Alkitab dan Alquran, Negara Israel belum terbentuk sampai pada tahun 1948. Semenjak kehancuran Kerajaan Israel dan penjajahan yang dilakukan oleh Romawi, Israel mengalami diaspora, dan tidak pernah memiliki pemerintahan sendiri yang berdaulat, hal ini pula yang menyebabkan penyebaran umat Yahudi di seluruh penjuru dunia, khususnya di Eropa. Umat Yahudi berasimilasi dengan masyarakat di sekitarnya, namun tetap mempraktikkan ajaran-ajaran Yahudi. Pada awalnya, tidak ada gerakan nasionalisme Yahudi yang mempunyai tujuan untuk kembali ke tanah Israel, karena pada umumnya warga Yahudi diterima di wilayah dimana mereka berasimilasi. Tetapi, setelah munculnya paham anti-semit di kawasan Eropa Timur dan Tengah gerakan nasionalisme Yahudi muncul di kalangan Yahudi Eropa. Gerakan ini lazim disebut dengan Zionisme, gerakan ini lahir karena adanya diskriminasi berkepanjangan terhadap warga Yahudi di hampir seluruh wilayah Eropa, maka asimilasi bukan lagi menjadi pilihan bagi Yahudi apabila mereka ingin tetap hidup. Zionisme telah berhasil membangkitkan nasionalisme Yahudi yang berada di Eropa.

Ketika gerakan Zionisme mulai marak di kawasan Eropa, wilayah Palestina dan Israel yang kita kenal pada saat ini masih berada dibawah kekuasaan Imperium Ottoman yang selama kurang lebih 400 tahun berkuasa. Keperkasaan Imperium Ottoman di kawasan Timur Tengah berakhir karena disebabkan oleh dua hal antara lain janji yang diberikan oleh Inggris kepada bangsa Arab akan pemerintahan yang independen jika bangsa Arab mau memberontak pada Imperium Ottoman serta kekalahan Imperium Ottoman pada saat Perang Dunia I (PD I). Akan tetapi janji Inggris terhadap Arab tidak segera diwujudkan, melainkan Inggris dan Prancis membuat perjanjian dengan membagi kekuasaan atas wilayah bekas kekuasaan Imperium Ottoman. Wilayah Palestina pada saat itu tidak diserahkan kepada Negara manapun, melainkan dijadikan sebuah wilayah Internasional yang dikelola secara bersama-sama diantara Negara pemenang perang.

Pada waktu yang hampir bersamaan Inggris juga memberikan janji kepada bangsa Yahudi dengan mendukung pendirian negara Yahudi di tanah Palestina. Hal inilah yang menjadi landasan bagi gerakan Zionisme untuk mewujudkan visi terbentuknya negara Yahudi yang eksklusif dengan kembali ke tanah Palestina. Lahirnya janji-janji dari Inggris kepada Yahudi dan Arab telah melatarbelakangi konflik antara Arab dan Yahudi, yang didukung oleh Inggris dan merasa paling berhak untuk berada di wilayah Palestina. Dalam kurun waktu hampir 30 tahun selama pemerintahan mandat Inggris, telah terjadi beberapa konflik diantara bangsa Arab dan Yahudi yang berada di wilayah Palestina, Dalam kurun waktu ini pula, terjadi Perang Dunia II di wilayah Eropa yang telah melahirkan tragedi holocaust, sehingga semakin menguatkan niat bangsa Yahudi di Eropa untuk kembali ke tanah Palestina. Lahirnya PBB sebagai penerus tugas dari LBB, tidak banyak membantu penyelesaian konflik yang terjadi di wilayah Palestina. PBB berinisiatif mebuat sebuah rancangan perdamaian untuk Arab dan Yahudi di Palestina dengan membuat pembagian wilayah, dimana negara Arab (45%) dan Yahudi (55%) dari total keseluruha luas wilayah Palestina. Dalam rancangan ini, Jerusalem tidak ditempatkan dibawah penguasaan Arab ataupun Yahudi, tetapi dijadikan sebagai sebuah wilayah internasional yang diurus oleh PBB. Adanya penolakan dari bangsa Arab yang merasa diperlakukan tidak adil melalui resolusi PBB mengenai pembagian wilayah memicu kerusuhan di Jerusalem antara Arab dengan Yahudi. Penolakan dari bangsa Arab secara otomatis telah menggagalkan perdamaian ini.

Gagalnya mandat Inggris melalui PBB di Palestina, tidak menghambat bangsa Yahudi untuk mewujudkan visi dari Zionisme. Pada hari yang bersamaan dengan berakhirnya Mandat Inggris, David Ben Gurion yang mewakili Yahudi, memproklamirkan berdirinya Negara Israel, dan hanya dalam hitungan jam Amerika Serikat memberikan pengakuaan terhadap negara Israel. Proklamasi kemerdekaan Israel ini menyulut kemarahan bangsa Arab, dan menimbulkan konflik bersenjata pertama antara bangsa Arab dengan Yahudi (Israel).

Kelahiran Israel pada 14 Mei 1948 telah memicu konflik berkepanjangan antara Arab dengan Israel. Konflik bersenjata pertama antara Arab dengan Israel atau yang dikenal dengan nama Al Nakba terjadi beberapa hari sesudah diproklamasikannya kemerdekaan Israel. Dukunganpun mengalir terhadap bangsa Arab yang berada di wilayah Palestina atas perlawanan terhadap Israel antara lain Irak, Yordania dan Mesir. Walaupun dukungan mengalir terhadap bangsa Arab di Palestina, Israel dapat memenangkan perang pertamanya sejak berdiri sebagai sebuah negara. Pertempuran pertama antar kedua etnis ini berlangsung sekita kurang lebhi satu tahun dan berakhir dengan sebuah perjanjian perdamaian antara Israel dengan negara - negara Arab disekitarnya pada bulan Juli 1949. Dengan adanya perjanjian maka eksistensi Israel sebagai negara ditegaskan dengan diterimanya sebagai anggota PBB.

Setelah konflik berakhir pada tahun 1949, Israel juga telah menyerang negara - negara Arab pada tahun 1967. Israel melancarkan serangan pertamanya ke Mesir, yang dikhususkan ke pangkalan udara militer yang menjadi basis kekuatan Mesir dan melanjutkan serangannya kepada Yordania, Suriah, dan Lebanon. Perang yang dikenal juga dengan Six Days War ini kembali dimenangkan oleh Israel, dan tidak hanya itu, Israel berhasil merebut wilayah Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir, Jerusalem Timur dan Tepi Barat dari Yordania, dan Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Secara hitung - hitungan melalui kekuatan militer, aliansi kekuatan militer negara - negara Arab jauh lebih besar dibandingkan dengan Israel. Namun Israel berhasil memenangkan peperangan dan berhasil mengubah peta geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kekalahan negara - negara Arab dalam Six Days War tidak membuat konflik antara Arab dengan Israel berakhir. Pada tahun 1973, tepat sebelum peringatan hari Yom Kippur oleh Yahudi, kembali terjadi konflik bersenjata antara Arab dengan Israel. Yom Kippur War menjadi puncak konflik bersenjata antara Arab dan Israel. Dalam perang ini, Bangsa Arab berhasil membalas kekalahannya dari Israel. Serbuan negara - negara Arab berhasil melumpuhkan Israel, meski Israel tidak dikalahkan secara telak. Perang ini berhasil memaksa Israel untuk mengembalikan Semenanjung Sinai dan Gaza kepada Mesir melalui sebuah perjanjian perdamaian pada tahun 1979. Kehadiran Palestine Liberation Organization (PLO) yang dibentuk pada tahun 1964 oleh Liga Arab sebagai representasi resmi bagi rakyat Palestina telah membuat perjuangan Palestina semakin terkontrol, dan memudahkan Palestina untuk ikut serta dalam konferensi - konferensi internasional hal itu dikarenakan status PLO sebagai gerakan pembebasan nasional yang diakui sebagai salah satu subyek hukum internasional. Meski telah memiliki organisasi yang resmi, masyarakat Palestina di tataran akar rumput tetap melancarkan perjuangannya secara otonom yang dikenal dengan “Intifada”. Salah satu ciri khas Intifada di Palestina adalah pelemparan batu yang dilakukan oleh rakyat Palestina terhadap angkatan bersenjata Israel. Lahirnya Intifada di Palestina telah menginspirasi beberapa pemimpin Palestina untuk memproklamasikan berdirinya negara Palestina pada tahun 1988. Semenjak tahun 1988, istilah “Palestina” untuk menggambarkan sebuah negara mulai dikenal. Meski pada tahun-tahun selanjutnya, PLO tetap menjadi representasi Palestina untuk berjuang di forum internasional, karena status Palestina sebagai negara belum diakui secara internasional.

Hingga saat ini konflik Israel - Palestina masih terus berlangsung, dan kita tidak akan pernah tahu sampai kapan konflik Israel - Palestina akan berakhir, kita tidak akan pernah tahu berapa ratus, ribu bahkan jutaan manusia lagi yang akan jadi korban baik harta maupun nyawa akibat konflik berkepanjangan antar kedua belah pihak. Kita semua berharap dan menginginkan akan terciptanya perdamaian di Timur Tengah dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan serta mengghargai segala bentuk perbedaan.

(dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar